Jumat, 08 Mei 2015

Proaktif - Virus Jadi Korban

Ada orang yang terkena virus jadi korban, yang disebut "Jadi Korban". Mungkin teman-teman pernah melihatnya. Orang yang terinfeksi virus ini percaya bahwa semua orang dan dunia ini hutang sama mereka. padahal tidak sma sekali. Mark Twin menjelaskan: " Jangan bilang dunia hutang sama kamu. Dunia tidak hutang apa-apa sama kamu. Dunia sudah ada duluan kok sebelum kamu". 

Selain merasa jadi korban, orang yang reaktif:
  • Mudah tersinggung.
  • Cenderung menyalahkan orang lain.
  • Cepat marah dan cenderung mengucapkan kata - kata yang belakangan mereka sesali. 
  • Cenderung merengek dan mengeluh.
  • Menunggu segalanya erjadi kepada mereka. 
  • Berubah hanya kalau perlu.
Jangan menganggap kesalahan orang lainlah yang membuat kamu juga melakukan kesalahan. Kamu akan mampu menghadapi permasalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain. Orang yang proaktif tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya.

Misalnya, saat kamu berdua dengan temanmu pergi ke sebuah tempat rekreasi. Tapi, sebelum pergi kamu sudah diingatkan oleh ibumu agar menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Memang kamu yang mungkin pemalas, kamu tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut. Kamu malah memilih untuk menyelesaikannya setelah kamu dan temanmu pulang dari tempat rekereasi.

Akan tetapi, ternyata ibumu marah saat kamu sudah pulang, karena sebenarnya pekerjaan rumahmu belum kamu selesaikan. Tetapi kamu malah menelfon temanmu, dan mengatakan bahwa dia yang bersalah, kenapa dia mengajakmu pergi ke tempat rekreasi.

Jika kamu memiliki sikap proaktif, kamu akan mengakui kesalahan dan kelalaianmu, bukannya menyalahkan temanmu yang telah mengajakmu pergi. Dan kamu akan menanggapi dengan positif amarah dari ibumu. Karena wajar saja dia marah, karena amanatnya tidak kamu kerjakan. Segeralah akui kesalahan dan minta maaf kepada ibumu. 

Proaktif - Dengarkanlah Bahasamu Sendiri

Biasanya setiap orang bisa mendengarkan perbedaan bahasa antara orang yang proaktif dan reaktif dari bahasa yang mereka gunakan. Begitu juga dengan kamu. Pastinya kamu bisa bisa memahami bahasa yang digunakan oleh orang lain saat berbicara kepada kamu. Apakah bahasa yang mereka gunakan proaktif atau reaktif. 

Bahasa reaktif biasanya seperti ini:
"Aku memang begini kok". Yang sebenarnya mereka maksud adalah, bukan aku yang bertanggung jawab atas sikapku. Aku tidak mungkin berubah. Aku telah ditakdirkan seperti ini.

"Kalau saja aku kuliah di kampus lain, punya teman yang lebih baik, dapat uang lebih banyak, tinggal di kosan yang elit, punya pacar... pasti aku bahagia". Yang sebenarnya mereka maksud adalah, Aku tidak dapat mengendalikan kebahagiaanku sendiri, keadaanlah yang mengendalikannya. Aku harus mengalami keadaan tertentu baru bahagia.

Bahasa reaktif merampas kuasa darimu dan memberikannya kepada orang lain atau hal lain. Menurut John Bytheway, dalam bukunya "What I Wish I'd Known in High School", kalau kamu bersikap reaktif, sama saja seperti memberikan alat pengendali jarak jauh hidupmu kepada orang lain. 

Bahasa Reaktif:
  • Aku coba deh
  • Aku memang begitu kok
  • Aku tidak bisa berbuat apa-apa
  • Aku terpaksa
  • Aku tidak bisa 
  • Kamu merusak hariku
Bahasa Proaktif:
  • Akan kukerjakan
  • Seharusnya aku bisa lebih baik dari pada itu
  • Yuk kita pelajari kemungkinan-kemungkinanna
  • Aku memilihnya
  • Takkan kubiarkan suasana hatimu yang jelek itu merusak hariku
Nah, sekarang tergantung teman-teman. Apakah akan terus-terusan berbahasa sebagai orang yang reaktif atau akan mengubah bahasa teman-teman menjadi bahasa yang proaktif? Teman-teman akan bisa membedakan bahasa yang digunakan sendiri.

MENJADI MAHASISWA BERKUALITAS SAAT INI, MENJADI TENAGA KERJA BERDAYA SAING DIMASA MENDATANG



Sebagai mahasiswa yang kedepannya akan menjadi seorang tenaga kerja, baik menjadi wirausaha maupun pebisnis, Kita pastinya terlebih dahulu melatih kebiasaan yang baik yang sebenarnya Kita semua memilikinya, agar dapat menunjang kemampuan Kita di masa depan. Di dalam buku yang berjudul “7 Habbits”, ditulis oleh Sean Covey, mengatakan bahwa ada 7 kebiasaan remaja yang Efektif. Diantaranya yaitu:
1.             Proaktif
Sikap Proaktif adalah langkah awal menuju tercapainya kemenangan pribadi. Kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita. Tidak ada orang yang akan bertanggung jawab terhadap hidup kita selain diri kita sendiri. Orang-orang proaktif selalu membuat pilihannya menurut nilai-nilai. Mereka berpikir sebelum bereaksi.  Mereka sadar tidak bisa mengendalikan segala yang terjadi, tetapi mereka bisa mengendalikan reaksi mereka.
Lawan dari proaktif adalah reaktif.  Orang reaktif selalu membuat pilihannya berdasarkan dorongan hati. Orang yang reaktif seperti sekaleng soda. Apabila kehidupan mengguncangnya, maka tekanan yang menumpuk akan meledak tiba-tiba. Orang yang proaktif akan bisa menahan emosi dan amarahnya. Tidak akan terpengaruh dengan suasana hatinya yang sedang kacau. Dia bisa menempatkan emosinya dimanapun berada. 
Dari pengalaman Saya sendiri, Saya memiliki seorang teman yang memiliki sikap seperti ini. Suatu hari, saat masih menginjak bangku SMK, Saya dan teman saya tersebut hendak ke kantin untuk membeli makanan. Akan tetapi, di tengah perjalanan, ada adik kelas yang sedang buru-buru hendak ke kelas. Dan tanpa sengaja, adik kelas tersebut menabrak Kami yang berjalan sambil mengobrol. Tanpa pikir panjang, teman Saya tersebut langsung marah-marah tanpa memberi waktu kepada adik kelas tersebut untuk meminta maaf. “Eh, kalau jalan itu lihat-lihatlah. Asal nabrak aja.” Begitu kata teman Saya tersebut. 
Kalau sekarang udah jadi mahasiswa, jangan gitu lagi yaa?? Kita kan udah gede. Udah bisa nyelesain masalah sepele seperti itu tanpa harus marah-marah. Kita kan bisa berbicara baik-baik dengan orang yang membuat masalah dengan kita. Seorang mahasiswa harus berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Terlebih lagi jika Kita sudah memasuki dunia kerja. Semua yang Kita lakukan akan memiliki dampak untuk karir Kita. Salah dalam bertindak akan mengancam karir yang sedang Kita jalani.
2.             Merujuk Pada Tujuan Akhir
Nah, Kita sebagai mahasiswa pasti memiliki tujuan mengapa kita memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi? Iya bukan? Termasuk juga untuk kehidupan kita kedepannya. Kita harus memiliki tujuan akhir dari hidup kita. Sebagai seseorang yang sudah dewasa, kita harus mampu mengendalikan masalah kita sendiri. Di dalam buku 7 Habbits dikatakan: “kendalikanlah takdirmu sendiri, kalau tidak mau dikendalikan orang lain”. Merujuk pada tujuan akhir atau mengingat-ingat tujuan akhir berarti mengembangkan gambaran yang jelas, kita mau ke mana dalam hidup. Artinya memutuskan apa nilai-nilai Kita dan menetapkan sasaran-sasaran kita.
Untuk merujuk pada tujuan akhir, kita perlu membuat pernyataan misi. Saya sendiri misalnya. Tujuan akhir Saya ingin menjadi seorang wirausahawan dalam bidang kuliner. Saya membayangkan bahwa usaha Saya dapat membuka cabang di beberapa daerah.
Steven Strong menyampaikan pernyataan misi seperti ini:
Ø  Religion ( agama )
Ø  Education ( pendidikan )
Ø  Suceeding ( meraih sukses )
Ø  Productif ( produktif )
Ø  Exercise ( olahraga )
Ø  Caring ( mempedulikan orang lain )
Ø  Truthful ( jujur )

Suatu bagian penting dalam mengembangkan pernyataan misi adalah menemukan apa bakat kita. Yang pasti, setiap orang memiliki talenta, sesuatu yang terampil mereka lakukan. Tetapi mungkin ada talenta lain yang mungkin tidak menarik banyak perhatian. Kebenaran yang lainnya adalah kita berkembang dalam waktu yang berbeda-beda. Jadi kalau kita lambat berkembang, jangan khawatir. Rileks aja gitu. Karena butuh waktu untuk menemukan talenta-talenta yang terpendam. Di dalam dunia kerja, Kita juga harus memiliki tujuan. Mengapa Kita memilih pekerjaan tersebut? Apa yang akan Kita lakukan untuk menjadi  lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain.
3.             Dahulukan Yang Utama
Nah, dahulukan yang utama ini maksudnya kita harus mampu memilah - milah mana yang paling penting untuk kita kerjakan. Sebagai mahasiswa, pasti banyak sekali tugas yang diberikan oleh dosen. Apa lagi kalau waktu untuk ujian sudah dekat. Pasti menumpuk tugas yang diberikan. Di sinilah kita harus bisa menjadi orang yang mendahulukan hal-hal yang paling utama.
Seseorang bisa di kategorikan ke dalam salah satu dari 4 prioritas, yaitu:
v  K1 - Orang yang suka menunda-nunda ( penting dan mendesak )
Orang seperti ini kecanduan kemendesakkan dalam melakukan apapun. Ia suka menunda-nunda, hingga menjadi krisis. Orang seperti ini suka mengerjakan apapun dimenit-menit terakhir. Contohnya saja, beberapa waktu lalu, Saya dan teman-teman sekelas diberi tugas untuk meringkas beberapa buku. Akan tetapi, banyak teman-teman yang santai-santai ketika tugas tersebut diberikan. Ketika tiba waktunya tugas itu dikumpul, pada banyak yang sibuk dan buru-buru menyelesaikan tugas tersebut. 
v  K2 - Orang yang suka menentukan prioritas ( penting dan tidak mendesak )
Orang seperti ini punya kebiasaan yang sederhana tetapi ampuh untuk merencanakan dulu, biasanya ia mampu mengendalikan segalanya. Orang seperti ini tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Misalnya saja, saat ini untuk tugas ujian tengah semester Saya dan teman-teman di tugaskan untuk membuat paper. Nah, jauh-jauh hari sebelum tugas tersebut dikumpul, Saya dan teman-teman sudah mulai untuk mengangsur tugas tersebut. 
v  K3 – Orang Yang Yes-man ( mendesak tetapi tidak penting )
Orang seperti ini dicirikan oleh berusaha menyenangkan semua orang dan menanggapi semua keinginan mereka. Orang seperti ini menipu, karena hal-hal mendesak tampaknya penting. Sebenarnya, sering kali tidak. Sebagai contoh, Saya memiliki teman yang kesehariannya tidak bisa lepas dari gadget. Dia lebih mengutamakan gadget dari pada mengerjakan tugas yang menumpuk. Tiba saatnya untuk mengumpul tugas, baru dia akan kebingungan. 
v  K4 – Pemalas ( tidak mendesak dan tidak penting )
K4 adalah kategori kesia-siaan. Orang seperti ini suka dengan hal-hal yang berlebihan. Dia memang pemalas yang profesional. Saya memiliki seorang teman seperti ini. Dia suka tidur berlebihan. Apa lagi kalau hari libur ngampus. Hmm.. ampun deh, padahal banyak kerjaan yang bisa dikerjakan dari pada molor mulu. 
Jadi, kita sebagai mahasiswa harus bisa memprioritaskan yang utama. Mana yang lebih penting untuk dikerjakan. Sebenarnya, menjadi mahasiswa itu tidak sulit. Akan tetapi, karena kita sendiri yang mempersulit pekerjaan kita. Oleh sebab itu, makanya kita selalu merasa kesulitan.
Apalagi jika di dunia kerja. Harus bisa lebih disiplin waktu. Karena akan berdampak tidak baik terhadap perusahaan dimana Kita bekerja. Misalnya saja, jika ada laporan yang di suruh manajer dibuat lalu dikumpul 2 hari kemudian, segeralah kerjakan sebelum deadline laporan tersebut. kita harus menjadi pekerja yang ligat. Jika pekerjaan Kita selesai dengan cepat, maka tidak akan terburu – buru untuk mengerjakannya jika waktunya sudah mendesak.
Menurut Buku yang berjudul “Softskills” yang ditulis oleh Peggy Klaus, softskills adalah keterampilan hidup untuk menjadi pribadi yang hangat dan lembut. Keterampilan merupakan bagian dari keseimbangan kerja.
Softskills mencakup spektrum kemampuan dan sifat-sifat  manusia yang luas, seperti: kesadaran diri, dapat dipercaya, berhati nurani, mampu beradaptasi, berpikir kritis, bersikap, berinisiatif, berempati, percaya diri, berintegritas, penguasaan diri, kesadaran berorganisadi, bersahabat, berpenaruh, berani mengambil resiko,  bisa menyelesaikan masalah, unya jiwa pemimpim, memiliki manajemen waktu dan beberapa yang lain.
1.             Kendalikan Diri Anda
Dalam buku berjudul “Softskills” yang ditulis oleh Peggy Klaus, setiap orang harus mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum mengenali orang lain. Yang paling utama adalah periksa diri Anda dengan jujur dan cermat. Kadang-kadang, kita memperoleh pelajaran berharga dari memperhatikan kelemahan kita sendiri. 
  • Mengenali diri dan piawai dalam bekerja, sama pentingnya
Yang paling utama adalah periksa diri Anda dengan jujur dan cermat. Ada yang mengatakan, mengetahui apa yang paling cocok untuk dilakukan hanya membuat rumit. Awalnya memang selalu tidak jelas di mana letak kekuatan Anda, sihingga diperlukan waktu dan pengalaman untuk mencari tahu. Sebagai mahasiswa, pasti Kita sudah mempunyai gambaran bagaimana kedepannya karir Kita. Bidang pekerjaan apa yang akan kita masuki setelah Kita menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan. Orang yang tidak bisa mengendalikan diri, tidak akan mudah berhasil dalam meniti karirnya. Dalam awal meniti karir, pasti Kita akan sering berganti-ganti pekerjaan. Karena, terkadang Kita merasa tidak cocok dengan bidang pekerjaan yang Kita dalami. Pekerjaan yang Kita pilih tidak sesuai dengan jurusan yang pernah Kita tempuh di dunia pendidikan.
  • ·         Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Resiko
Untuk mendapatkan apa yang diinginkan pasti banyak tantangan dan resiko yang akan diperoleh seseorang. Berbicara tentang bagaimana perubahan tidak hanya diinginkan tetapi tak terelakkan, entah diterima atau ditolak.  Bahkan jika Anda bersenandung gembira dalam dunia kecil milik Anda sendiri, Anda masih terpenjara. Orang yang suka menolak resiko lebih menyukai keamanan dan kenyamanan dalam melakukan hal yang berulang-ulang. Berikut kisah yang Saya kutip dari buku Softskills :

Seseorang bernaman Charlie yang memegang jabatan sebagai pendiri dan direktur dari sebuah organisasi nirlaba besar, untuk beberapa waktu lamanya ia tergoda oleh pekerjaan yang menguntungkan dari suatu organisasi konsultan baru. Setelah bertahun-tahun bertarung habis-habisan dengan para birokrat negara untuk memperoleh dana, pada saat puncak booming bisnis dot-com, Charlie melompat mengambil kesempatan untuk kembali ke dunia usaha dan menjadi konsultan dengan bayaran tinggi. Ia begitu gembira sehingga ia mengambil cuti tiga bulan tanpa izin dan menyewa kantor dekat rumahnya, dangan pertimbangan bahwa ia dapat dengan mudah pindah ke posisi baru dan mulai konsultasi dengan klien sambil mencari pengganti tetapnya di organisasi nirlaba. Sepuluh minggu persiapan dilakukan, Charlie baru menyadari bahwa ia telah malakukan kesalahan besar. Ia benci tidak menjalankan peranannya sendiri dan tidak senang bekerja sendirian. Selanjutnya, ia melakukan pekerjaan yang jauh dari keluarga dan rumahnya, ia merasa tertekan. Tiba-tiba organisasi nirlaba tampak lebih jauh baik dari pada beberapa bulan yang lalu ketika ia melompat ke posisi baru.

Di dalam buku “Softskills”, cara melakukan penilaian resiko diantaranya adalah dengan:
§  Menilai secara umum tingkat kenyamanan Anda ketika menghadapi resiko.
§  Mengidentifikasi pro dan kontra dari resiko tersebut.
§  Mempertimbangkan apa yang dikatakan perasaan Anda dan menentukan apakah itu sesuatu yang pantas untuk dikhawatirkan sehingga perlu diteliti lebih lanjut.
§  Jika Anda memutuskan untuk mengambil resiko, kembangkan strategi agar Anda dapat bertahan selama masa transisi. Memiliki strategi membantu jenis orang “penghindar-resiko” merasa kurang cemas dan mendorong jenis orang ramah-resiko lebih metodis tentang keputusan mereka agar menghindari perilaku impulsif.
§  Sekali Anda membuat keputusan untuk mengambil resiko, siapkan orang-orang dan sumber daya yang Anda butuhkan untuk menjadi sukses.
§  Siapkan beberapa alternatif “bagaimana jika”, apabila rencana Anda tidak berhasil.
§  Sebagai orang yang sudah hampir dewasa, seorang mahasiswa harus mampu mengendalikan satu hal. Jangankan seorang mahasiswa, seseorang yang sudah sukses saja tidak bisa mengendalikan banyak hal. Tetapi hanya ada satu hal yang bisa kita kendalikan. Yaitu, bagaimana reaksi kita terhadap apa yang terjadi pada kita. Itulah sebabnya kita perlu berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, dan mulai berusaha mengendalikan hal-hal yang mungkin untuk kita kendalikan.

Dari pengalaman Saya, Saya memiliki teman yang banyak keinginan. Merasa tidak puas dengan apa yang sudah dia miliki. Sebagi contoh, Dia memiliki rambut yang ikal. Padahal rambutnya tersebut menurut teman-teman yang lain sudah bagus. Akan tetapi, dia tidak suka. Malah dia pergi ke salon untuk meluruskan rambutnya. Alhasil, dengan rambut yang lurus seprti itu, malah tidak sesuai dengan bentuk wajahnya.

2.        Menangani Para Pengkritik
Kadang-kadang dikatakan, Anda dapat menghindari kritik dengan cara tidak melakukan apa-apa, tidak berkata apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa. Tentu saja, Anda juga akan dikritik jika tidak melakukan apa-apa. Sebagai seorang mahasiswa, tidak mungkin Kita hanya berdiam diri dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin Kita tidak melakukan sesuatu dalam hidup. Terlebih lagi, jika Kita memiliki masalah dengan orang lain. Apa mungkin Kita hanya berdiam diri jika ada masalah? Sebagai orang yang bisa dikatakan sudah dewasa, Kita harus mampu menyelesaikan masalah dengan baik.

Disaat ada tugas, jika tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, pasti itu menjadi masalah untuk Kita. Nah, pasti jika tidak mengerti, Kita akan bertanya dengan orang yang mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Jika Kita tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik, lalu orang lain mengkritik dengan kritikan yang tidak enak, Kita harus bisa menghadapi kritikan yang dilontarkan kepada Kita.

Di dalam dunia kerja, Kita tidak dapat terhindar dari yang namanya persaingan. Jika pekerjaan yang Kita lakukan salah, maka bersiap-siaplah mendapat kritikan dari atasan Kita. Kritikan yang Kita peroleh bisa saja kritikan yang baik, namun bisa saja sebaliknya. Sebagai bawahan, Kita dengan lapang dada harus mampu menerima krtitikan yang diberikan kepada Kita.
o   Buku tidak dinilai dari sampulnya, begitu juga dengan Anda
Disaat pertama kali Kita bertemu dengan orang yang belum pernah Kita kenal, Kita langsung bisa menilai bagaimana orang tersebut. Begitu juga dengan orang tersebut, Dia akan langsung menilai diri Kita. Terkadang Kita memperoleh kesan baik ataupun kesan buruk, tetapi jarang netral.

Misalnya saja, Sewaktu pertama kali Saya masuk ke SMK. Di saat memasuki ruangan kelas yang menjadi kelas Saya, disitulah perama kali Saya berkenalan dengan sahabat Saya. Awalnya, disaat belum berkenalannya, Saya menilai kalau dia orangnya sombong, jutek, dan gak menyenangkan. Akan tetapi, setelah Saya kenalan dengannya saya merasa nyaman berteman dengannya. Dia tidak seperti yang Saya nilai sewaktu pertama kali berkenalan.

Sebagai mahasiswa, kita jangan langsung menilai orang dari luarnya saja. Sebelum Kita benar-benar tau bagaimana orang yang Kita kenal tersebut. Karena bagaimana penilaian Kita terhadap orang tersebut belum tentu benar, belum tentu sama dengan bagaimana orang tersebut. Orang yang Kita anggap buruk, pada kenyataannya Dialah yang lebih baik dari diri Kita. Begitu juga sebaliknya, orang yang Kita anggap baik, malah lebih buruk dari apa yang Kita pikirkan. Tidak selamanya orang yang berwajah cantik dan tampan, memiliki kepribadian yang baik. Akan tetapi, tidak semuanya orang yang Kita anggap tidak menarik lebih buruk dari apa yang Kita pikirkan.

Begitu juga di dalam dunia kerja. Terkadang rekan kerja Kita bisa saja bersikap manis terhadap Kita. Padahal dia tidak menyenangi keberadaan Kita di lingkungan kerja tersebut. Dia yang Kita anggap baik bisa saja ternyata tidak sebaik yang Kita anggap. Maka jangan dengan mudah untuk percaya dengan orang lain. 
o        Tidak Perlu Jadi Teman Baik  Semua Orang
Menjadi terlalu baik akan menumbuhkan bibit ketidakpercayaan dengan orang lain dan membuat Anda curiga. Hal ini juga dapat mengganggu efektifitas Anda dan Anda akan kehilangan rasa hormat. Kebutuhan manusia untuk disukai bersifat universal. Naun, pastikan untuk menyelaraskannya dengan fakta berikut: ingin menjadi teman terbaik semua orang tidak selalu bisa menuntaskan pekerjaan.
Sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi, pasti Kita membutuhkan teman. Terlebih lagi Kita tidak kuliah di daerah Kita. Syukur-syukur jikalau Kita mendapatkan teman yang baik, jika tidak bagaimana? Nah, jangan terlalu baik dengan teman Kita. Memang benar, Kita harus menjadi teman yang baik. Akan tetapi, jangan terlalu baik dengan orang lain. Karena, bisa saja orang tersebut hanya memanfaatkan Kita. Dan itulah yang menyebabkan Kita terhalang untuk mengembangkan kemampuan Kita.

Di dunia kerja, persaingan sangat ketat sekali. Jika Kita tidak pandai memilah-milah dengan baik, maka teman dekat Kita sendirilah yang akan menghancurkan Kita. Nah, kalau jadi mahasiswa kita harus bisa melakukan hal-hal yang memang memungkinkan untuk dilakukan. Jika kita merasa tidak terlalu pandai, jangan merasa minder dengan teman-teman yang kita anggap lebih pandai dari kita. Seharusnya, jika kita merasa seperti itu, hal itulah yang kita jadikan motivasi untuk terus dan terus belajar. Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Tidak ada hal yang mustahil jika kita memiliki keinginan untuk berubah. Malah mungkin, kita bisa lebih pandai dari dia. tetapi semua itu diiringi oleh niat, usaha, dan doa. Memang kebenaran yang ada, bahwa tingkat kecerdasan setiap orang berbeda-beda.

Sebelum semua kesuksesan tercapai, semua itu berawal dari bagaimana Kita belajar sewaktu di dunia pendidikan. Bagaimana cara Kita berusaha untuk memahami pelajaran yang disuguhkan kepada Kita.
Dari buku yang berjudul “Quantum Learning” yang ditulis oleh Bobby DePorter, kita juga harus menyesuaikan cara belajar kita. Untuk menjadi mahasiswa yang berhasil, tidak bisa sembarang cara untuk belajar dilakukan. Kita harus tau dulu, Kita cocoknya di gaya belajar yang seperti apa sih? Kita sukanya kalau belajar itu dibarengi dengan apa sih? Nah, harus kita sesuaikan semuanya. Kita harus mampu berpikir logis dan kreatif untuk kemajuan di masa sekarang dan masa depan.

Saya sendiri, seorang yang memiliki gaya belajar visual, yakni dengan cara melihat. Saya akan mudah lupa dengan instruksi yang diberikan jika tidak ditulis. Nah, saat prakteklah Saya sering lupa. Nah, Anda sendiri harus tau gaya belajar Anda terletak di tipe gaya belajar yang mana. Apakah visual, auditorial, atau kinestetik...???
1.             Kekuatan Apa Manfaatnya Bagiku
Sebagai Mahasiswa, sebelum melakukan sesuatu, kita harus tau apa manfaat dari hal yang akan kita lakukan. Apa manfaatnya bagiku adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat – akibat suatu keputusan. Termasuk dengan belajar. Kita harus mampu menimbang apa manfaat dari hal yang kita pelajari. Belajar bagaimana membuat diri Anda termotivasi untuk mencapai tujuan. Anda mengetahui langkah-langkah yang harus diambil untuk menumbuhkan minat dalam segala hal. Untuk melakukan sesuatu, diperlukan trik-trik tertentu. Ia gak?? Pastinya ia donk... heheehe.. Seperti pemain sepak bola aja deh contohnya, kalau mereka tidak memiliki trik tertentu, pastinya mereka tidak akan bisa berhasil meraih kemenangan.

Anda harus tau seluk beluk dari belajar aktif. Anda mendengarkan dosen menjelaskan mata kuliah di depan, tetapi tidak hanya mendengarkan yang diperlukan. Anda harus mampu menyimak apa yang disampaikan oleh dosen. Anda harus mampu berperan aktif saat proses belajar mengajar berlangsung. Anda harus bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Anda aktif mengikuti pelajaran.
Segala sesuatu yang Kita lakukan harus menjanjikan manfaat bagi Kita atau Kita tidak akan termotivasi untuk melakukannya.” Contohnya saja, disaat Kita sedang belajar, tiba – tiba teman Kita datang ke rumah Kita mengajak pergi nongkrong. Sebelum Kita menerima tawaran dari teman Kita tersebut, Kita pikirkan terlebih dahulu apa sih manfaat yang bakalan Kita peroleh kalau Kita menerima tawarannya. Lebih baik Kita belajar dari pada ikut pergi nongkrong.
2.             Memupuk Sikap Juara
Seperti yang dijelaskan di dalam buku “Quantum Learning”, berpikir seperti seorang juara membuat Anda menjadi juara. Itulah pentingnya mengetahui bagaimana memupuk sikap juara. Bagaimana mengubah negatif menjadi positif, bagaimana keterbatasan menjadi peluang. Aset yang paling  berharga adalah sikap positif. Jika memiliki harapan yang tinggi terhadap diri sendiri, hargaa diri yang tinggi, dan keyakinan bahwa Anda akan berhasil, Anda akan memperoleh nilai tinggi.
*   Kegagalan adalah Umpan Balik
Seperti pemaparan dalam buku “Quantum Learning”, dapat Kita ambil kesimpulan jika Kita mengalami kegagalan, maka jadikan kegagalan itu sesuatu yang memotivasi Kita untuk menjadi lebih baik lagi. Yang terpenting dari pengalaman belajar adalah cara Anda memandang kegagalan. Ketika Anda terjatuh, Anda tidak berpikir, “Ah, betapa malunya aku, semoga ibu tak melihatku!” Tetapi sebenarnya, setiap kegagalan kecil merupakan potongan informasi lain yang membawa Anda pada kebrhasilan. Adalah umpan balik yang dibutuhkan untuk melakukan beberapa perubahan penting dalalm teknik Anda. Setelah belajar dari segala sesuatu yang Anda dapat dari setiap kegagalan, Anda dapat memperbaiki kesalahan Anda dan mencapai keberhasilan puncak Anda.

Contohnya, yang terjadi pada Saya sewaktu duduk di bangku kelas 2 SMP. Pada saat semester 1, Saya memperoleh peringkat ke-4 di dalam kelas. Sewaktu memasuki semester 2, di saat dekat dengan pelaksanaan waktu ujian semester 2, Saya terpilih untuk mewakili kecamatan di tingkat kabupaten se-Kabupaten Siak untuk mengikuti Pekan Olahraga Daerah dalam bidang jasmani, yaitu senam. Dua hari setelah pulang dari POPDA, Kami pun ujian semerter. Setelah pembagian hasil belajar, Saya ternyata memperoleh peringkat ke-13 di kelas. Saya merasa kecewa atas nilai yang Saya peroleh. Tetapi, itu adalah awal bagaimana Saya termotivasi untuk lebih baik lagi di semester berikutnya. Setelah kejadian itu, Saya menjadi lebih giat lagi dalam belajar. Alhasil, pada semester 1 di bangku kelas 3, Saya bisa meraih peringkat ke-6. Lumayan bukan?
3.             Berpikir Logis, Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif yaitu berpkir berbeda dari biasanya. Sedangkan berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dan sesuai dengan akal sehat. Orang yang kreatif selalu memiliki rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, bertualang, suka bermain-main, sera intuitif – dan Kita berpotensi menjadi orang yang kreatif. Yang diperlukan adalah pikiran yang penuh rasa ingin tahu, kesanggupan untuk mengambil resiko dan dorongan untuk membuat segalanya berhasil – tiga kualitas yang ada pada semua orang.

Menjadi mahasiswa, harus mampu lebih kreatif. Karena nantinya, di dunia kerja juga dibutuhkan orang yang kreatif dalam bekerja. Mahasiswa yang kreatif akan lebih mempunyai potensi. Dalam menghadapi permasalahan, dibutuhkan pemikiran yang kreatif. Jika seseorang menjadi entrepreneurship, dia menciptakan produk yang lain dari yang lain. Contohnya saja, sewaktu di SMK, sekolah Kami membuat keripik yang terbuat dari kulit ubi dan pisang. Lalu, mengubah sampah – sampah bekas minuman yang berplastik menjadi bahan bakar.

Orang yang kreatif menggunakan pengetahuan yang Kita semua memilikinya dan membuat lompatan yang memungkinkan mereka memandang sesuatu dengan cara – cara baru. Cara seseorang memecahkan masalah adalah kombinasi dari pemikiran logis dan kreatif.
Proses kreatif mengalir melalui lima tahap, yaitu:
§  Persiapan ( mendefinisikan masalah, tujuan, atau tantangan ).
§  Inkubasi ( mencerna fakta – fakta dan mengolahnya dalam pikiran ).
§  Iluminasi ( mendesak ke permukaan, gagasan – gagasan bermunculan ).
§  Verifikasi ( memastikan apakah solusi itu benar–benar memecahkan masalah ).
§  Aplikasi ( mengambil langkah–langkah untuk menindaklanjuti solusi ).

Orang yang kreatif akan lebih bisa diandalkan di dunia kerja atau dimanapun Ia berada. Ia mampu menciptakan ide – ide yang cemerlang. Ia tidak akan bosan mencari alternatif lain dari apa yang Ia kerjakan.

Kebiasaan 1 - Jadilah Proaktif

" Manusia bisa bahagia bisa tidak adalah tergantung pilihannya sendiri. "
 ABRAHAM LINCOLN, Presiden Amerika Serikat

Kebiasaan 1, Jadilah Proaktif, adalah kunci untuk membuka segala kebiasaan lainnya, dan itu sebabnya menjadi kebiasaan nomor 1. Kebiasaan 1 bilang, "Akulah sumber pendorong diriku sendiri. Akulah kapten hidupku. Aku bisa memilih sikap. Akulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan atau pun ketidak - bahagiaanku sendiri. Akulah yang duduk di kursi pengemudi menuju  takdirku, bukannya penumpang".

Bersikap proaktif adalah langkah pertama menuju tercapainya kemenangan pribadi. Semua jadi tidak mungkin bila Kamu belum mampu mengendalikan hidupmu !!! 

Bersikap Proaktif atau Reaktif ????
Setiap harinya kita punya 100 peluang untuk memilih bersikap proaktif atau reaktif. Teman-teman yang kamu anggap baik, bisa saja membicarakan hal yang buruk mengenai diri kamu, guru yang cerewet, teman yang pelit, cuaca yang mendung, tugas yang menumpuk, kamu bisa saja gagal dalam ujian. Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu memilih untuk bersikap proaktif atau reaktif?

Orang yang reaktif membuat pilihannya berdasarkan dorongan hati. Mereka bertindak tidak berpikir dahulu apa akibat yang akan ditimbulkan kedepannya. Apakah akan menyelesaikan masalah? Atau malah akan menambah masalah? Mereka hanya mengikuti kehendak hatinya. Orang yang reaktif diibaratkan seperti sekaleng soda. Apabila dikocok, maka tiba-tiba akan meledak. Begitu juga mereka, jika kehidupan mengguncangnya, tekanan mereka akan menumpuk, dan lalu akan meledak. 

Nah, orang yang Proaktif bertindak sebaliknya. Orang yang proaktif akan membuat pilihannya berdasarkan nilai-nilai. Mereka berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Mereka akan mempertimbangkan hal-hal yang akan terjadi atas tindakan yang akan diambil dan dipilih. Orang yang proaktif sadar, bahwa mereka tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi kepada mereka, tetapi mereka bisa mengendalikan reaksi mereka.

Cara untuk memahami cara berpikir proaktif adalah dengan membandingkan respons-respons yang proaktif dengan situasi sehari-hari. 

Contoh peristiwa:
Sudah satu tahun kamu kerja di toko, dan selama ini kamu sangat setia dan dapat diandalkan. Tiga bulan yang lalu, masuk karyawan baru. Baru-baru ini, ia diberikan giliran jaga Sabtu sore, yang kamu nanti-nantikan. 

Pilihan reaktif:
  • Habiskan separuh waktumu dengan mengeluh kepada semua orang, tentang keputusan yang tidak adil menurutmu. 
  • Amat-amati setiap karyawan baru dan cari kelemahannya. 
  • Yakinlah bahwa atasanmu sentimen sama kamu. 
  • Malas-malasan kalau sedang giliran jaga.

Pilihan proaktif:
  • Bicara sama atasan kamu, mengapa karyawan baru itu yang mendapatkan giliran jaga yang lebih baik.
  • Tetap menjadi karyawan pekerja keras.
  • Belajar untuk meningkatkan prestasi.
  • Kalau kamu yakin jalanmu buntu, cari pekerjaan lain.
Naah... semua kembali lagi kepada teman-teman semuanya. Apakah teman-teman akan bersikap proaktif? Ataukah reaktif? Mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan, teman-teman sudah dapat membedakannya. Hidup teman-teman adalah teman-teman sendiri yang mengendalikannya, bukan orang lain.



Jumat, 01 Mei 2015

Hadapi Permasalahan

Tidak ada satupun orang yang tidak memiliki permasalahan hidup. Semua memiliki berbagai masalah. Dari anak kecil hingga dewasa. Tetapi untung saja anak kecil tidak mengerti mengenai apa itu masalah. Setelah kita beranjak remaja, disitulah banyaknya masalah yang muncul. 

Apa lagi, remaja yang baru memasuki masa puber. Hmmm.. ada aja masalah yang muncul. Tetapi jangan takut menghadapi masalah. Malah seharusnya masalah itu Kita hadapi, bukan dihindari. Menjadi orang yang sabar dalam menghadapi masalah memang sulit. Tetapi pada kenyataannya, sabar itu dapat dilatih. Jika kita selalu berusaha untuk sabar, maka jika ada masalah yang muncul kembali, Kita akan mencoba untuk bersabar kembali.

Setiap permasalahan yang muncul memiliki jalan keluar. Nah, sekarang tergantung kepada Kita. Apakah permasalahan itu akan kita hadapi atau kita biarkan saja masalah yang menjadi semakin besar. 

Pertama, untuk bisa menjadi orang yang sabar, Kita harus melatih kebiasaan yang pertama. Yaitu Proaktif. Sebagaimana yang tercantum dalam buku yang berjudul " 7 Habbits ", yang ditulis oleh Sean Covey. 

Proaktif adalah sikap dimana mampu mengendalikan diri. Selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Orang yang proaktif bertindak berdasarkan nilai - nilai. Mereka bisa mengendalikan reaksi mereka. Orang yang reaktif tetap terkendali, tenang, dan dingin. 

Lawan dari proaktif adalah reaktif. Orang yang reaktif bertindak menurut dorongan hati.  Mereka seperti sekaleng soda, jika kehidupan mengguncangnya, maka tekanan mereka akan menumpuk dan tiba - tiba meledak. 

Contoh:

Kamu mendengar sahabat baikmu menjelek - jelekkan kamu di depan suatu kelompok. Ia tidak tahu kalau kamu mendengar percakapannya. Baru lima menit sebelumnya, ia bicara manis di depan kamu. Kamu merasa tersinggung dan dikhianati. 

Pilihan Reaktif:
1. Labrak dia. Lalu pukul dia.
2. Depresi berat.
3. Anggap dia pembohong bermuka duadan jangan mau ajak omonh lagi selama dua bulan. 
4. Bals jelek - jelekkan dia. 

Pilihan Proaktif:
1. Maafkan dia.
2. Ajak bicara baik - baik.
3. Jangan gubris dan beri dia kesempatan. Sadarlah bahwa dia punya kelemahan seperti kamu dan bahwa sesekali kamu pun ngomongin dia tanpa bermaksud buruk. 

Kedua, Kita harus memiliki softskills. Menurut buku yang berjudul " Soft Skills" yang ditulis oleh Peggy Klaus, soft skills adalah karakter dan perilaku non - teknis yang diperlukan untuk menuju karir yang sukses. Soft skills menyangkut banyak aspek dalam kepribadian, yang meliputi atribut positif serta kompetensi dalam meningkatkan harmonisasi relasi, prestasi kinerja, dan nilai pasar. Ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, berkomunikasi secara efektif, menjadi menyenangkan dan positif, menerima tanggung jawab, menangani konflik, menerima kritik, menunjukkan rasa hormat, membangun kepercayaan, mengelola waktu secara efektif, bekerja di bawah tekanan, serta menunjukkan perilaku yang baik. 

Jika ada masalah yang datang, hadapi dengan tenang. Ambil sisi positif dari masalah tersebut. Dibalik setiap masalah, ada hikmah yang tersembunyi. 

Contoh:

Sebagai remaja, tidak luput dari masalah yang namanya cinta. Emang sih banyak yang bilang cinta monyet gitu. Tapi, setiap remaja tidak luput dari masalah itu. Dulu, sewaktu SMA, saya punya teman yang sudah 5 bulan pacaran. Tetapi, belakangan mereka sering berantem. Terkadang hal sepele pun menjadi masalah yang besar buat mereka. Tapi akhirnya mereka putus. Dan 2 minggu belakangan setelah putus, barulah teman perempuan saya tersebut tahu. Bahwa mereka sering bertengkar karena ada perempuan lain yang sudah diincar ama si cowok tersebut. Dan teman saya tersebut sadar. Cowok itu bukanlah lelaki yang baik. Untung aja mereka cepat putus. Kalau tidak, hmm.. kasihan tuh teman saya.

Dalam buku yang berjudul "Quantum Lerning" yang ditulis oleh Bobby Deporter, dijelaskan bahwa Kita harus memupuk sikap juara. Yang salah satunya kita harus menganggap kegagalan sebagai umpan balik. Setiap kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Namun, jadikan kegagalan sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk terus bangkit dari permasalahan yang muncul. Yang terpenting dari pengalaman belajar itu adalah cara Kita memandang kegagalan. Jangan anggap kegagalan sebagai penghambat Kita untuk terus berkarya. Untuk menjadi orang yang berhasil, pasti selalu mengalami jatuh dan bangun. Hanya ketika Anda telah belajar segala sesuatu dari setiap kegagalan, kita dapat menuju keberhasilan puncak.

Contoh:

Di semester satu ketika ujian, ada satu mata pelajaran yang mendapat nilai di bawah standar. Padahal, Kita sudah berusaha semampu Kita untuk memperoleh nilai yang terbaik. Namun, hasil yang diperoleh tidak seperti apa yang kita inginkan. Jangan putus asa dengan nilai jelek yang didapat. Seharusnya, kita jadikan itu sebagai motivasi agar di semester depan pada pelajaran itu mendapat nilai yang terbaik, tidak hanya dipelajaran itu saja, kalau bisa di setiap mata pelajaran. 

Jadi, jangan menjadi orang yang rapuh dalam mengahadapi masalah ya guys.. !! Ingat, Allah memberi Kita sebuah cobaan dan ujian karena Kita adalah orang yang mampu menghadapi masalah yang Dia berikan kepada kita. Tetap sabar, berusaha, dan jangan berdoa untuk keberhasilan kita semua.